Tentang Perkalian

Perkalian, terdengar sepele dan semua orang pasti bisa melakukan perkalian. Tapi kenapa Indonesia bisa heboh gara-gara hal sepele seperti ini? Ternyata dalam perkalian, untuk beberapa kasus misalnya 4 x 6 dan 6 x4,  walaupun hasilnya sama-sama 24 tapi metode yang digunakan berbeda.

Seperti yang akhir-akhir ini heboh di media massa Indonesia, tentang Muhammad Erfas Maulana, seorang mahasiswa Teknik Mesin yang membantu adiknya mengerjakan PR matematika, tapi 8 dari 10 soal PR yang dijawab Erhas disalahkan oleh sang guru, Erhas yang tidak terima dengan keputusan bu guru akhirnya membawa masalah ini ke media sosial Facebook.

 

Di sinilah mulai hangatnya masalah perkalian 6 x 4 dan 4 x 6, banyak orang yang mengedepankan pendapatnya masing-masing, ada yang menganggap 6 x 4 dan 4 x 6 adalah berbeda karena metodenya berbeda, tapi banyak juga yang berpendapat bahwa 4 x 6 dengan 6 x 4 adalah sama, karena hasilnya sama. Situasi semakin heboh saat beberapa pakar dan tokoh terkenal seperti Yohanes Surya dan Thomas Djamaluddin mulai angkat bicara dan media massa mulai menjadikannya berita hangat, jadilah fenomena 6 x 4 dan 4 x 6 semakin menjadi topik hangat di Indonesia.

Dikutip dari akun Facebook pak Thomas Djamaludin, beliau menjawab 4+4+4+4+4+4 adalah 6 x 4, berikut penjelasannya,

Misalnya, Ahmad dan Ali harus memindahkan bata yang jumlahnya sama, 24. Karena Ahmad lebih kuat, ia membawa 6 bata sebanyak 4 kali, secara matematis ditulis 4×6. Tetapi Ali yang badannya lebih kecil, hanya mampu membawa 4 bata sebanyak 6 kali, model matematisnya 6×4. Jadi, 4+4+4+4+4+4 = 6×4. Berbeda konsepnya dengan 6+6+6+6 = 4×6, walau hasilnya sama 24.

Ada lagi penjelasan dari penulis buku terkenal pak Yohanes Surya, berikut penjelasannya,

Ketika menghitung 6 x 4, kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 6 kotak berisi masing-masing 4 jeruk. Jadi, 6 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4. Ketika menghitung 4 x 6, kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 4 kotak berisi masing-masing 6 jeruk. Jadi, 4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6.

Kasus ini semakin ramai saat Menteri Komunikasi dan Informatika, bapak Tifatul sembiring berkicau di twitternya, 6 x 4 sama dengan enambelas. Sempat, tidak sempat haraplah dibalas. *baladaperkalian”. Tweet ini mendapat respon yang cukup kritis dari followernya, karena 6 x 4 adalah 24, entah Pak Tifatul lupa atau memang sengaja bercanda.

Belum lagi beberapa komentar-komentar unik dari masyarakat, diantaranya status facebook Rene Kawilarang, “Misi Satelit India ke Mars Sukses– kalau di Indonesia masih sibuk debat mana yang benar, 4×6 atau 6×4:)“. Dan ini “4×6 atau 6×4 ? Kalau saya sih 4×6 itu foto ijazah dan 6×4 itu foto sampul facebook..hehe“.

Bagaimanapun, fenomena ini telah membuka mata kita bahwa dalam dunia matematika, tidak hanya mementingkan hasilnya, tapi lebih mementingkan bagaimana prosesnya. Seperti ungkapan pak Thomas, jangan jadi generasi kalkulator yang hanya tahu hasilnya saja, tapi tidak tahu logikanya.

Dengan kemampuan berlogika, suatu kasus bisa dimodelkan dengan rumusan matematis, sehingga mudah dipecahkan .

Dari permasalahan bangsa yang satu ini, saya terpikirkan untuk membuatkan solusinya, ya saya hanya bisa membantu dari bidang saya, yaitu bidang informatika, saya membuat sebuah aplikasi perkalian yang tidak hanya bisa menampilkan hasilnya, tapi juga menjelaskan cara kerja perkaliannya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *